Thomas Herman Karsten adalah tokoh yang berperan besar dalam perencanaan kota di Indonesia . Ia memulai karirnya di Indonesia sebagai penasehat perencanaan di kota Semarang . Kemudian ia menjadi penasehat perencanaan kota Jakarta, Bandung, Magelang, Malang, Bogor, Madiun Cirebon, Jatinegara, Yogyakarta, Surakarta, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin. Sebagai arsitek ia diakui mampu memadukan unsur-unsur Indonesia dan Barat. Karya-karyanya tersebar di berbagai kota di Indonesia. Pasar Johar di Semarang yang terancam dibongkar adalah salah satunya.
Yang sering dilupakan orang adalah kepedulian Karsten terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang di masanya. Padahal, menurut Simon Karsten, anak laki-laki Thomas Karsten, untuk memahami karya-karya ayahnya konteks ini (dan kecintaan Karsten pada kebudayaan Indonesia dan pada istrinya) penting. Karsten mengakui bahwa kebudayaan Barat membawa kemajuan, tapi dalam pandangannya kebudayaan Barat sedang merosot.
Kebudayaan Timur, dan khususnya Indonesia, dengan spiritualisme dan ikatan sosialnya bisa menyelamatkan Barat dari kemerosotannya itu. Menurutnya, unsur-unsur terbaik Timur dan Barat bisa digabungkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi serta membawa kemajuan bagi keduanya. Karsten mempunyai visi tentang Indonesia pasca penjajahan, suatu Indonesia di mana Timur dan Barat hidup bersama dan sederajat dalam masyarakat yang harmonis.
Amsterdam
Karsten
berasal dari keluarga terpelajar yang mapan. Ayahnya pengajar filsafat dan
rektor sebuah hoogeschool. Dalam lingkungan keluarga inilah Karsten mulai
mengenal gagasan-gagasan progresif. Sejak muda Karsten telah menunjukkan
perhatiannya yang besar pada isu-isu sosial di Belanda. Pilihannya untuk
belajar di fakultas bouwkunde di Technische Hogeschool di Delft adalah salah satu bukti tentang kesadaran
sosialnya itu. Fakultas yang baru didirikan itu menjadi tempat belajar
orang-orang muda yang mempunyai keinginan memperbaiki kondisi sosial
masyarakat.
Setelah lulus Karsten bergabung dengan Sociaal Technische Vereeneging, kelompok profesional muda yang progresif. Pada 1904 ia terlibat dalam proyek pembangunan rumah rakyat diAmsterdam ,
Volkshuisvesting in de Nieuwe Stad te Amsterdam .
Amsterdam ketika itu adalah satu-satunya kota industri di Belanda.
Di kota itu
terdapat kesenjangan sosial, ekonomi, dan etnis yang parah. Di kota ini pula
berkumpul para tokoh-tokoh pemikir radikal Belanda. Diprakarsai walikota
Amsterdam yang sosialis, proyek besar ini bertujuan menyediakan perumahan layak
di kawasan Amsterdam Selatan. Di
daerah kumuh ini tinggal buruh pendatang dan masyarakat Yahudi miskin. Proyek
inilah yang membentuk pandangan-pandangan idealistis dan ideologis Karsten
selanjutnya.
Semarang
Atas undangan Henri Maclaine-Pont,
temannya semasa kuliah di Delft , Karsten datang
ke Semarang
pada 1914. Semarang di masa itu adalah kota yang unik.
Dibandingkan kota-kota lain, para pejabat di Semarang mempunyai wawasan yang lebih luas.
Selain itu terdapat komunitas Tionghoa yang sangat kaya dan berpengaruh serta
kelas menengah pribumi berpendidikan Barat yang aktif. Di sisi lain terdapat
masyarakat Indo dan Jawa kelas bawah
yang miskin.
Meski menghadapi berbagai persoalankota , kehidupan intelektual di Semarang ketika itu sangat bergairah. Suratkabar yang sangat berpengaruh di
Hindia Belanda, “De Locomotief”, terbit di Semarang. Keadaan Semarang di awal
abad 20 itu kondusif bagi munculnya gerakan-gerakan progresif dan radikal,
seperti halnya Amsterdam yang baru ditinggalkan Karsten. Di Semarang Karsten
menemukan lahan yang subur untuk merealisasikan gagasan-gagasannya di bidang
perumahan rakyat dan perencanaan kota.
Melalui perencanaankota Karsten berupaya
untuk menyatukan masyarakat kolonial, untuk memberikan kesempatan pada semua
penduduk tanpa melihat latarbelakang etnis mereka menikmati lingkungan sosial
dan budaya yang sama, sesuai dengan tingkat perkembangan ekonomi dan sosial
masing-masing. Menurutnya dalam masyarakat Indonesia modern bukan faktor etnis
tapi faktor sosial-ekonomi yang menjadi penentu. Suatu lingkungan yang
terencana akan memungkinkan penduduk hidup bersama membangun suatu masyarakat
multi-kultural.
Setelah kariernya yang panjang sebagai konsultan untuk berbagaikota di
Indonesia ide-ide Karsten
mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial di Batavia . Ia diangkat menjadi anggota komisi
reformasi perkotaan (Bouwbeperkingscommisie
(1930) yang pada 1934 berubah menjadi Stadsvormingscommissie).
Tapi meski telah mendapatkan pengakuan pemerintah, usulan pengangkatan Karsten sebagai
profesor di Technische Hoogeschool di Bandung (sekarang Institut Teknologi
Bandung) ditolak. Karsten dianggap terlalu radikal dan terlalu kritis. Ironisnya,
justru di kalangan nasionalis radikal Karsten dianggap terlalu kooperatif
terhadap pemerintah. Visi Karsten tentang ‘asosiasi’ dan ‘fusi’ sosial, budaya,
dan politik tidak mempunyai tempat dalam Indonesia Merdeka yang diperjuangkan
kaum nasionalis revolusioner. Sementara menurut Karsten kemerdekaan Indonesia
tidak perlu dicapai dengan revolusi, tapi dengan emansipasi rakyat melalui
pendidikan.
Pangeran Mangkunagoro VII dan Soembinah
Karsten banyak berhubungan dengan para intelektual Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Mangkunagoro VII, penguasa Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta. Selama lebih dari tiga puluh tahun Karsten mengadakan hubungan surat menyurat dengan Mangkunagoro VII. Di antara Mangkunagoro VII dan Karsten terjalin persahabatan yang didasari rasa saling hormat. Keduanya disatukan oleh kepedulian pada kebudayaan Jawa. Karsten melihat sosok Mangkunegoro VII sebagai model priyayi Jawa modern.
Mangkunagoro VII ketika masih bernama Raden Mas
Soerio Soeparto tinggal lama di Belanda. Ia belajar bahasa di Universitas
Leiden dan bertugas pada Haagsche
Grenadier (pasukan elit pengawal ratu). Sebagai Mangkunagoro VII ia hadir
pada pernikahan Putri Juliana dan menyajikan tari Sari Tunggal yang
dibawakan Gusti Nurul puterinya sebagai hadiah perkawinan, sekaligus secara halus
menunjukkan kebanggaannya pada budayanya sendiri.
Perkawinan Karsten pada 1921 dengan Soembinah, seorang perempuan pribumi semakin memperkuat ikatan Karsten dengan Indonesia. Pengertian pribumi disini adalah dari sudut pandang hukum kolonial. Soembinah adalah cucu Heinrich Wieland, mantan tentara Swiss yang menetap di Wonosobo dan menikah dengan seorang perempuan Jawa. Dari perkawinan itu lahir sembilan anak, salah satunya Antje yang menikah dengan Mangunredjo, lurah di Dieng. Karena perkawinan itu status Antje berubah menjadi inlander. Dengan sendirinya anak-anak hasil perkawinan antara Mangunredjo dan Antje Wieland juga berstatus pribumi.
Pada masa itu sudah jarang laki-laki Belanda totok beristeri perempuan pribumi, meskipun di masa sebelumnya banyak yang mempunyai gundik atau nyai pribumi. Tapi seorang nyai tidak pernah muncul di depan umum. Sebaliknya Soembinah belajar bahasa Belanda dan aktif dalam kegiatan-kegiatan di kalangan perempuan Eropa. Ia menemani Karsten dalam perjalannya ke Eropa pada 1930.
Besarnya peran Soembinah dalam kehidupannya diakui Karsten.
Karsten dan Soembinah mempunyai empat orang anak, salah satunya Simon yang mengikuti jejak ayahnya menjadi arsitek. Bahasa sehari-hari yang dipakai oleh keluarga Karsten adalah bahasa Belanda dan cara hidup mereka pada dasarnya cara hidup Eropa, Namun di rumah mereka terdapat seperangkat gamelan yang rutin dimainkan. Pada hari-hari penting keluarga Karsten juga mengadakan slametan seperti layaknya keluarga Jawa.
Buku Harian
Pada 1930 Karsten mulai mencatat gagasan-gagasannya dalam buku harian. Dalam keadaan sakit dalam tahanan Jepang di Cimahi ia masih mengisi buku hariannya itu. Dalam bukunya itu Karsten mencatat pemikiran-pemikiran para filsuf Eropa, perkembangan kapitalisme di Amerika Serikat, komunisme di Rusia dan fasisme di Eropa. Ia juga menuliskan pandangannya tentang agama-agama dan filsafat Timur.
Catatan terakhir Karsten ditulis pada 21 April 1945, hanya sesaat sebelum ia meninggal. Karena sudah terlalu lemah dan tidak mampu menulis, ia meminta bantuan dokternya yang juga sesama tahanan untuk mencatat kata-kata terakhirnya: “Indonesia bersatoelah, Indonesia bermoelialah."
Yang sering dilupakan orang adalah kepedulian Karsten terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang di masanya. Padahal, menurut Simon Karsten, anak laki-laki Thomas Karsten, untuk memahami karya-karya ayahnya konteks ini (dan kecintaan Karsten pada kebudayaan Indonesia dan pada istrinya) penting. Karsten mengakui bahwa kebudayaan Barat membawa kemajuan, tapi dalam pandangannya kebudayaan Barat sedang merosot.
Kebudayaan Timur, dan khususnya Indonesia, dengan spiritualisme dan ikatan sosialnya bisa menyelamatkan Barat dari kemerosotannya itu. Menurutnya, unsur-unsur terbaik Timur dan Barat bisa digabungkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi serta membawa kemajuan bagi keduanya. Karsten mempunyai visi tentang Indonesia pasca penjajahan, suatu Indonesia di mana Timur dan Barat hidup bersama dan sederajat dalam masyarakat yang harmonis.
Setelah lulus Karsten bergabung dengan Sociaal Technische Vereeneging, kelompok profesional muda yang progresif. Pada 1904 ia terlibat dalam proyek pembangunan rumah rakyat di
Semarang
Meski menghadapi berbagai persoalan
Melalui perencanaan
Setelah kariernya yang panjang sebagai konsultan untuk berbagai
Pangeran Mangkunagoro VII dan Soembinah
Karsten banyak berhubungan dengan para intelektual Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Mangkunagoro VII, penguasa Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta. Selama lebih dari tiga puluh tahun Karsten mengadakan hubungan surat menyurat dengan Mangkunagoro VII. Di antara Mangkunagoro VII dan Karsten terjalin persahabatan yang didasari rasa saling hormat. Keduanya disatukan oleh kepedulian pada kebudayaan Jawa. Karsten melihat sosok Mangkunegoro VII sebagai model priyayi Jawa modern.
Perkawinan Karsten pada 1921 dengan Soembinah, seorang perempuan pribumi semakin memperkuat ikatan Karsten dengan Indonesia. Pengertian pribumi disini adalah dari sudut pandang hukum kolonial. Soembinah adalah cucu Heinrich Wieland, mantan tentara Swiss yang menetap di Wonosobo dan menikah dengan seorang perempuan Jawa. Dari perkawinan itu lahir sembilan anak, salah satunya Antje yang menikah dengan Mangunredjo, lurah di Dieng. Karena perkawinan itu status Antje berubah menjadi inlander. Dengan sendirinya anak-anak hasil perkawinan antara Mangunredjo dan Antje Wieland juga berstatus pribumi.
Pada masa itu sudah jarang laki-laki Belanda totok beristeri perempuan pribumi, meskipun di masa sebelumnya banyak yang mempunyai gundik atau nyai pribumi. Tapi seorang nyai tidak pernah muncul di depan umum. Sebaliknya Soembinah belajar bahasa Belanda dan aktif dalam kegiatan-kegiatan di kalangan perempuan Eropa. Ia menemani Karsten dalam perjalannya ke Eropa pada 1930.
Besarnya peran Soembinah dalam kehidupannya diakui Karsten.
Karsten dan Soembinah mempunyai empat orang anak, salah satunya Simon yang mengikuti jejak ayahnya menjadi arsitek. Bahasa sehari-hari yang dipakai oleh keluarga Karsten adalah bahasa Belanda dan cara hidup mereka pada dasarnya cara hidup Eropa, Namun di rumah mereka terdapat seperangkat gamelan yang rutin dimainkan. Pada hari-hari penting keluarga Karsten juga mengadakan slametan seperti layaknya keluarga Jawa.
Buku Harian
Pada 1930 Karsten mulai mencatat gagasan-gagasannya dalam buku harian. Dalam keadaan sakit dalam tahanan Jepang di Cimahi ia masih mengisi buku hariannya itu. Dalam bukunya itu Karsten mencatat pemikiran-pemikiran para filsuf Eropa, perkembangan kapitalisme di Amerika Serikat, komunisme di Rusia dan fasisme di Eropa. Ia juga menuliskan pandangannya tentang agama-agama dan filsafat Timur.
Catatan terakhir Karsten ditulis pada 21 April 1945, hanya sesaat sebelum ia meninggal. Karena sudah terlalu lemah dan tidak mampu menulis, ia meminta bantuan dokternya yang juga sesama tahanan untuk mencatat kata-kata terakhirnya: “Indonesia bersatoelah, Indonesia bermoelialah."

No comments:
Post a Comment